04 Februari 2009

Pit Stop

Satu perahu berlayar ke timur, lainnya ke barat,
Padahal digerakkan oleh angin yang sama.
Bukan arah angin yang menentukan
ke mana arah perahu,
tapi bentangan lebar layarlah yang membawa kita.
Seperti angin laut itulah alur kehidupan.
Saat kita mengarungi kehidupan.
Bentangan jiwalah yang menentukan tujuannya,
Dan bukan ketenangan atau hiruk pikuknya lingkungan kita.
(Ella Wheeler Wilcox)

Kericuhan hari kemarin adalah pelajaran buat saya. Ada tidaknya sesuatu yang tidak pas pada porsinya, membuat saya belajar untuk menyikapi kondisi yang ada. Sekali lagi, bukan kita yang terbawa situasi, tapi kita lah yang membawa situasi itu kemudian mengarahkannya karena kitalah nahkodanya. Bukan ombang-ambing ombak di luaran sana yang menjalankan kehidupan saya.

Hari kemarin crowded dan membuat banyak orang lain kecewa atas diri saya. ”Maaf...!”, hanya itu senjata satu-satunya yang bisa saya keluarkan ketika membuat orang lain kecewa. Namun, tak sampai di situ saya bisa meleburkan kekecewaannya. Paling tidak saya bertekad akan lebih baik.

Hampir saja, perjalanan panjang yang saya lalui akhir-akhir ini membuat saya lelah. Entah, kelelahan apa yang mengelabui keyakinan saya sementara ini. Setidaknya, saya tidak akan menyerah sekarang. Saya ini, hanya butuh ruang dan napas panjang untuk menikmati kehidupan lain yang sempat saya lupakan.

Saya berpikir mencari tempat semacam ”pit stop”. Seperti tontonan saya tiap musim di tahun 2009 ini yang akan diawali bulan April mendatang, adalah arena ”pit stop” yang menjadi pilihan seorang pembalap sekelas Rossi ataupun Pedrosa untuk memenangkan sesinya dengan perhitungan waktu yang tepat dan amunisi yang baru. Saya pun ingin memasuki area ini, dengan perhitungan tepat ketika waktu orang lain tidak saya rugikan dan dengan waktu saya sendiri. Untuk sekedar mengisi bahan bakar baru dan menantikan semangat baru muncul dengan napas penyegaran.

The last, saya suka ending hari kemarin. Saya menemukan ”pit stop” ini sepanjang perjalanan saya ke Sukoharjo. Tepat hari Selasa, saya menjelajahi Sukoharjo, sedikit menyerempet ke Wonogiri melihat pemandangan bukit yang luar biasa indahnya. Saya baru pertama kali melewati jalur itu, dan terasa begitu nikmat. Laiknya menyantap dinginnya es kelapa muda, di tepian aliran sungai yang mengalir jernih.

Di tambah lagi kejadian di perpus pusat yang membuat saya sedikit terobati dengan segala macam perasaan yang bercampur, sama halnya gado-gado: ada perasaan bersalah meninggalkan tanggungan, mengecewakan orang lain, melakukan banyak hal tapi melepaskan banyak moment. Membuat saya makin merasa bahwa 24 jam ini terasa begitu cepat berputar. Dan saya ingin menemukan ”pit stop”-”pit stop” lainnya yang akan memberikan waktu bagi saya untuk menikmati hidup. Melewati kosongnya waktu dengan perenungan. Perenungan panjang selama hampir 2 tahun saya di Solo. Ataupun rutinitas yang sudah mulai membuat saya sesak. Ingin segera mencari tempat bernama ”pit stop”. Dan sangat ingin......pergi ke alam bebas.

4 komentar:

  1. ya udah yuuuukkk...
    kita ke sawahhh...
    maunya kapan???

    BalasHapus
  2. diazt, mb dulu juga punya 'pit stop'..
    apa coba?
    jawabannya : ukhuwah......, serta lingkaran-lingkaran kecil yang senantiasa menguatkan..
    :-)

    BalasHapus
  3. cori yaa dias..
    sy sdkt maksa dias iktn kmrn slasa ^^
    acarany jd kacau y..

    tp seneng khan??

    BalasHapus
  4. bukannya pit stop itu adanya di hati?

    BalasHapus