28 Desember 2010

Child for Future

Ada yang menarik dari kata-kata seorang pembicara dalam acara yang saya protokoli. Seperti ini bunyinya, “Untuk apa mendorong anak kita menjadi ranking 1 jika yang diperebutkan hanyalah satu kursi. Tapi…sebagaimana pintarnya kita sebagai orang tua untuk mendorong anak kita meraih kesuksesan di bidang yang diminatinya.“ Benar juga saya mencerna perlahan kata-kata itu. Pastinya…anak mana yang mau dituntut hanya karena obsesi orang tua. Ga’ banyak orang tua yang habis-habisan (ya ongkos, ya tenaga) untuk memasukkan anaknya ke sekolah mentereng (bonafide). Tapi bukan karena keinginan anaknya, melainkan keinginan orang tuanya. Status sosial lah yang menjadi faktor pendorong utama. Terlihat hebat diantara orang tua yang lainnya, ketika bisa memamerkan putra-putrinya masuk ke sekolah bonafit atau kelas akselerasi, meski sebenarnya yang perlu dilihat adalah kemauan dan kemampuan anak itu sendiri. Bukan seberapa tebal kantong orang tua. Karena yang akan menjalankan proses belajar mengajar, pastilah si anak. Biarkanlah anak belajar memilih dan kita membimbing. Bukan kita yang memilih dengan segala otoritas kita sebagai orang tua dan membiarkan anak kita menjalani masa kecilnya seperti robot. Dari sinilah anak akan belajar bertanggungjawab dengan pilihannya sendiri.


Satu lagi yang menarik dari yang saya baca, “Children Learn What They Live” by Dorothy Law Nolte. Seperti ini bunyinya, tentunya setelah ditranslate:
Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri.

So…yakinkah kita sebagai orang tua tega mencetak anak kita dengan pembelajaran yang terjadi seperti di atas. Tentunya, tidak…
See bout this….

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
Ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
Ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
Ia belajar kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
Ia belajar menyenangi dirinya sendiri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih saying dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Anak adalah anugrah yang seharusnya kita pelihara sebaik-baiknya hadiah terbesar dari Tuhan. Anak itulah yang akan meneruskan lahiriah kita sebagai manusia. Baik dan buruknya anak adalah tanggungjawab kita sebagai orang tua. Disinilah peran suami dan istri untuk sama-sama mendidik anaknya. Keduanya berperan sama besarnya. Jika ayah mengajari anak untuk berani dan berpikir logis, maka ibu mengajari anak untuk berempati dengan perasaan orang lain dan berpikir dewasa. Jika ayah memberi perlindungan, maka ibu memberikan kehangatan untuk anaknya.
Peranan keduanya haruslah seimbang meski keduanya bekerja mencari nafkah sebagai individu yang dikatakan dual carrier marriage. Terutama bagi ibu yang berperan ganda (sebagai ibu dari anak-anaknya-istri bagi suaminya dan sebagai wanita karir). Sisi yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan dirinya dalam mengatasi permasalahan dalam rumah tangga.


Inilah…mudah-mudahan yang menjadi bahan tugas akhir saya….
Doakan ya…berjalan lancar dan sukses sampai gelar S.Psi bisa saya rengkuh…
Amin….