12 November 2010

Aroma Sendu

Hai…

Saya benar-benar ingin bercerita pada dinding tak bernapas ini. Dinding air yang mengalirkan setumpuk ide ga’ jelas dari seorang Deeast. Coretan aneh dari alam bawah sadarnya yang memaksanya menggali kuburan memori lebih dalam. Terlalu dalam, kadang terasa sakit, terasa menyayat, terasa galau. Ini bukan alam bawah sadar yang berwarna terang seperti siluet fajar. Hari ini replika kehidupan lainnya turut memenuhi memoriar saya. Replika kehidupan yang kembali terulang dalam neuron otak saya. Soma mengalun, yang membawa saya pada akhir 2008 silam.


Hufh,

Dinding ini tak berdetak dan bernapas. Bahkan tak bisa ditinggalkan oleh rohnya. Tak bisa pula membuat orang sedih karena berpisahnya roh dari raga. Ini membuat saya ngilu. Membuat saya harus mengingat masa-masa itu.


Saat itu……

Kami duduk berdekatan. Sangat dekat. Saya pegang pundaknya. Saya genggam jemarinya. Saya lakukan apapun untuknya. Saya usap pelupuh mata di kedua sisinya. Bahkan saya persilahkan bahu ini sebagai pembaringan bagi kegundahannya. Tak henti-hentinya ia mengusap kedua raut wajahnya. Sembab. Memerah. Pilu. Khawatir. Dan getir.


Entahlah,

Saya pun tak mampu berkata-kata saat itu. Redup dan gelap. Semua menghilang dan menjauh. Memetakan persepsi ketakutan dan keputusasaan. Hal yang paling menakutkan seakan terjadi begitu saja.


Hari ini,

Saya melihat adegan itu terulang.

Rentetan orang memutari wanita muda di depan kamar kos saya. Memencet tuts number yang berhubungan dengan seluruh family-nya. Tak ada yang mau mengatakan apa yang terjadi. Ia hanya menangis dan tersipuh di ambang pintu. Trenyuh dan hening saat itu. Hanya suara isak tangis yang terdengar. Suara yang sama, yang saya dengar waktu itu.


Waktu itu,

Suara serak menggelanyut, wanita dalam pelukan saya. Ia hampir rubuh dan kami pun hampir nelangsa di buatnya. Kalau bukan kami yang tegar dan turut roboh, lantas siapa yang akan memeganginya agar tetap tegak?


Saat itu,

Saya tak sendiri. Kami berdua mengapitnya dalam peluk sayu saat itu. Kami mencoba membuatnya tegar meski kami pun tak kuasa melihatnya menangis, khawatir dan bingung.


Seperti dua tahun yang lalu,

Hari ini, adegan itu terulang. Sebuah berita melayang dari ponsel wanita di kerumunan tadi.

“Mas-mu kecelakaan…..” Deggg!!

Tubuhnya mengglosor tak bertulang. Kakinya lemas dan tangisnya menjadi. Kami berkumpul dan memutarinya. Seseorang menggenggam dan seorang lagi memeluknya.


Lagi-lagi....

Scene yang sama. Saat itu dan hari ini adalah hari yang sama dimana saya menangis. Seperti pepatah lama, "Ada pertemuan-ada perpisahan"

"Dari tanah…akan kembali ke tanah…"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar